MIMIKA – Menembus pegunungan terjal sejauh puluhan kilometer, menghadapi cuaca ekstrem, hingga berhadapan dengan kelompok bersenjata OPM, prajurit TNI dari Satuan Tugas (Satgas) Habema tetap menjalankan misi kemanusiaan untuk mengevakuasi warga sipil Orang Asli Papua (OAP) yang menjadi korban pembunuhan di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Misi tersebut berlangsung dalam kondisi yang tidak mudah. Lokasi kejadian berada sekitar 65 kilometer dari pusat Kabupaten Yahukimo dengan medan yang didominasi pegunungan terjal dan akses yang sangat terbatas. Meski dihadapkan pada tantangan geografis yang berat serta ancaman keamanan di lapangan, prajurit TNI tetap melakukan penyisiran secara bertahap guna memastikan seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi dengan layak.
Panglima Komando Operasi TNI Habema, Mayjen TNI Yudha Airlangga, menjelaskan bahwa proses pencarian diawali dengan ditemukannya jejak darah yang mengarah ke lokasi para korban.
“Kami menemukan jejak darah terlebih dahulu, kemudian menelusurinya hingga mengarah ke lokasi korban. Saat proses penyisiran berlangsung sekitar pukul 11.20 hingga 11.40 WIT, pasukan kami mendapat perlawanan dari kelompok bersenjata OPM hingga terjadi kontak tembak. Mereka sudah menunggu kami, namun seluruh personel mampu mengantisipasi situasi tersebut sehingga misi kemanusiaan tetap dapat dilanjutkan,” ujarnya.
Setelah situasi berhasil dikendalikan, prajurit TNI menemukan dan mengevakuasi dua jenazah korban yang diketahui merupakan pasangan suami istri, yakni Yentinus Kogoya alias Kumis Kogoya dan istrinya, Pam Wendakwe. Sementara itu, satu korban lainnya yang merupakan seorang perempuan dari Suku Unaukam masih dalam proses pencarian. Identitas lengkap korban tersebut juga masih didalami oleh aparat.
Mayjen TNI Yudha Airlangga menegaskan bahwa keselamatan warga sipil selalu menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan tugas.
“Sebagai seorang prajurit, kami telah memahami setiap risiko dalam menjalankan tugas. Namun ketika yang kami hadapi adalah warga sipil yang menjadi korban kekerasan, kami tidak bisa tinggal diam. Medannya berat, cuacanya tidak bersahabat, bahkan kami sempat mendapat perlawanan dari kelompok bersenjata. Tidak ada satu pun prajurit yang mundur. Prioritas kami hanya satu, memastikan para korban dapat dievakuasi dan kembali kepada keluarganya dengan layak. Tidak boleh ada rasa takut yang mengalahkan nilai kemanusiaan,” tegasnya.
Saat ditemukan, kondisi kedua jenazah dinyatakan sangat memprihatinkan dan menunjukkan adanya dugaan tindak kekerasan yang tidak manusiawi. Setelah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian, kedua korban dibawa ke RSUD Dekai sekitar pukul 14.30 WIT untuk menjalani proses visum sebelum diserahkan kepada keluarga dan pihak berwenang. Proses evakuasi tersebut juga dipantau langsung oleh Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, sebagai bentuk perhatian terhadap penanganan para korban.
Dalam kesempatan yang sama, Mayjen TNI Yudha Airlangga membantah narasi yang disebarkan kelompok OPM yang menyebut para korban merupakan bagian dari intelijen TNI. Menurutnya, tudingan tersebut tidak berdasar dan hanya memperkeruh situasi. Ia menegaskan bahwa para korban adalah warga sipil Orang Asli Papua yang menjadi korban tindak kekerasan sehingga berhak memperoleh perlindungan, penghormatan, dan penanganan yang layak.
Keberhasilan operasi ini menjadi gambaran dedikasi prajurit Satgas Habema dalam menjalankan misi kemanusiaan di wilayah dengan tingkat kesulitan tinggi. Menembus medan ekstrem, menghadapi cuaca yang tidak menentu, hingga tetap menjalankan tugas di tengah ancaman kelompok bersenjata, para prajurit menunjukkan komitmen untuk memastikan setiap korban dapat dievakuasi. Bagi Satgas Habema, setiap nyawa warga Papua memiliki nilai yang harus dilindungi, sehingga kehadiran TNI di wilayah tersebut tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga pada upaya kemanusiaan bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan.




